Perkembangan
Kebudayaan Logam
Di Indonesia
SMA
NEGERI 1 BAHODOPI
KAB.MOROWALI
TAHUN
AJARAN 2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Allah SWT mungkin saya tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapabesar pengaruh “PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN LOGAM DI INDONESIA”
yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini saya
susun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri sendiri maupun
yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan
dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Saya
juga mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing yang telah banyak membantu pembelajaran
agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini
dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini
memiliki kelebihan dan kekurangan. Terima kasih.
Bahodopi, 20 Mei 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
COVER............................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I. PENDAHULUAN
A. LatarBelakang............................................................................. 1
B. Rumusanmasalah........................................................................ 2
C. Tujuandanmanfaat...................................................................... 3
BAB II. PEMBAHASAN
A. ZamanLogam.............................................................................. 4
B. PengertianNekara........................................................................ 7
C. Benda-bendaLainnya.................................................................. 9
BAB III. PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 12
B. Saran……………………………………………………………
13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.LatarBelakangMasalah
Perkembanganteknologiperunggu di wilayah Indonesia di
ikutidengankemunculan
pusat-pusatpembuatanbenda-bendadarilogam.terbukti di
temukannyapercetakanbenda-benda
perunggu yang sangatbaikdantidakbergayaklasik Dong
Song.Danalat-alatperunggupada
zamantersebutyaitu :
- Kapak
corong
- Nekara
perunggu
- Bejana
perunggu
- Arca
perunggu
Perkembanganbenda-bendalogamawal
di pulau Bali berkaitandenganbekal
kubur,karenabenda-bendatersebutbanyak di
temukan di Sarkofagus.Danbendadaribesi
yangberhasilditemukankebanyakansudahhancur
B.RUMUSAN MASALAH
Adapunrumusanmasalahdarimateriiniyaitu
1.Apasajakahalat-alatperunggupadazamanLogam?
2.Apa yang dimaksuddenganNekara ?
3.Apasajakahbenda-benda lain yang di
dapatkandarizamanperunggu ?
C.TujuandanManfaat
-Tujuandarimakalahiniyaitu
1.Kita dapatmengetahuialat-alatperunggupadazamanlogam .
2.Kita
dapatmengetahuipengertiandariNekara .
3.Kita
dapatmengetahuibenda-benda lain yang di temukanpadazamanperunggu.
-Manfaatdarimakalahiniyaitu :
Agar
memperluaswawasanbagipembacamaupunpenulisdandapatmengetahuisejarah-Sejarah yang
ada di Indonesia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.ZamanLogam
Pada zaman prasejarah, zaman dibedakan berdasarkan
alat-alatnya, yaitu, zaman batu dan logam. Zaman batu yang termuda adalah zaman
neolitikum dan zaman selanjutnya adalah zaman logam. Dengan dimulainya zaman
logam, bukan berati berakhir zaman batu, karena pada zaman logam masih terdapat
alat-alat dan perkakas batu. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa saat
itu logam telah dikenal dan dipergunakan orang untuk membuat alat-alat
yang diperlukan.
Logam tidak dapat dipukul-pukul atau dipecah seperti batu
guna mendapat alat yang dikehendaki. Logam harus dilebur dahulu dari bijinya
untuk dapat dipergunakan. Leburan logam itu yang kemudian dicetak. Tehnik
pembuatan benda-benda dari logam itu dinamakan <<a cire perdue>>,
dan caranya adalah: benda yang dikehendaki dan dibuat terlebih dahulu dari
lilin, lengkap dengan bagian-bagiannya. Kemudian model dari dari lilin itu
ditutup dengan tanah. Dengan jalan dipanaskan maka selubung tanah ini menjadi
keras, sedangkan lilinnya menjadi cair dan mengalir ke luar lubang yang telah
disediakan di dalam selubung itu. Jika telah habis lilinnya, dituangkan logam
cair ke dalam geronggang tempat lilin tadi. Dengan demikian logam itu
menggantikan model lilin tadi. Setelah dingin semuanya, selubung tanahnya
dipecah, dan keluarlah benda yang dikehendaki itu, bukan dari lilin melainkan
logam.
Dari zaman-zaman prasejara, dapat ketahui bahwa zaman
logam dibagi lagi atas zaman tembaga, perunggu dan besi. Asia Tenggara tidak
mengenal zaman tembaga. Setelah neolitikum langsung ke zaman perunggu dan
berlanjut ke zaman besi. Di Indonesia zaman logam pun sulit untuk dibago ke
dalam zaman perunggu atau besi. Bisa dikatakan bahwa zama logam di Indonesia
hanya zama perunggu, karena alat-alat perkakas besi tidak banyak bedanya dengan
alat-alat zaman perunggu.
1.Zaman Perunggu
Zaman Perunggu adalah masalah dalam perkembangan sebuahperadaban
ketikakerajinan
logam yang paling maju telah mengembangkan teknik melebur tembaga dari
hasil bumi dan membuat perunggu.
Zaman Perunggu adalah bagian dari system tigauntuk masyarakat prasejarah
dan terjadi setelah Zaman Neolitikum di beberapa wilayan di dunia.
Di sebagian besar Afrika subsahara,
Zaman Neolitikum langsung diikuti Zaman Besi.
Zamanperungguberlangsungkuranglebih 500 tahun
SM. Teknikpembuatannyaadalaha cireperdue (cetakhilang,
hanyasesekaliuntukmencetak).Contoh di Bali ditemukan
cetaknekaradaribatu. Yang
dicetakdengancetakanbatuadalahnekaralilin, sedangkan
nekaraperunggunyadicetakdengana cireperdue. Di
jamansekarang orang membuat
cetakan yang dapatdipakaiberkali-kali disebut bivalve
(duasetangkup). Perunggu
merupakan campuran timah putih dan tembaga.
Pada zaman perunggu atau
yang disebut juga dengan kebudayaan Dongson-Tonkin
Cina (pusat kebudayaan)ini manusia purba
sudah dapat mencampur tembaga dengan
Alat-alat perunggu pada
zaman ini antara lain :
a. Kapak Corong (Kapak perunggu, termasuk
golongan alat perkakas) ditemukan
di
Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi, Kepulauan Selayar, Irian
b. Nekara Perunggu (Moko) sejenis dandang
yang digunakan sebagai maskawin.
Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa,
Roti, Selayar, Leti
c. Benjana Perunggu ditemukan di Madura dan
Sumatera.
d. Arca Perunggu ditemukan di Bang-kinang
(Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan
Bogor (Jawa Barat)
A. Kapak Corong 6
Pada zaman kebudayaan di Eropa, menghasilkan kapak-kapak
tembaga yang masih menyerupai kapak batu. Bentuk dan wujud dari kapak tembaga
itu tidak berbeda dari dari kapak batu, bahkan sering terdapat tanda bahwa
sengaja tembaga itu menyerupai bentuk batu.
Di Indonesia, kapak logam yang ditemukan adalah kapak
perunggu yang sudah menyerupai bentuk tersendiri. Kapak ini biasanya
dinamakan”kapak sepatu”, maksudnya ialah kapak yang bagian atasnya berbentuk
corong yang sembirnya belah, sedangkan ke dalam corong itulah dimasukkan
tangkai kayunya yang menyiku kepada bidang kapak. Jadi, seolah-olah kapak
disamakan dengan sepatu dan tangkainya dengan kaki orang. Lebih tepat kapak ini
dinamakan kapak corong.
Kapak corong banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Jawa,
Bali, Sulawesi Tengah dan Selatan, pulau Selayar dan Irian dekat danau Sentani.
Berbagai jenis ditemukan, ada yang kecil bersahaja, ada yang besar dan memakai
hiasan; ada yang pendek lebar, ada yang bulat, dan ada pula yang panjang satu
sisi. Yang panjang satu sisi disebut Cendrasa. Tidak semua kapak itu
dipergunakan sebagai kapak. Misalnya, yang kecil adalah tugal, sedangkan yang
sangat indah dan juga cendrasa tidak dapat digunakan sebagai perkakas dan hanya
dipakai sebagai tanda kebesaran dan alat upacara saja.
Cara pembuatan kapak-kapak corong itu menunjukkan adanya
tehnik a cire perdue. Di dekat Bandung ditemukan cetakan dari tanah bakar untuk
menuang kapak corong. Berdasarkan penyelidikan, menyatakan bahwa yang dicetak
bukan logamnya, melainkan kapak yang dibuat dari lilin, ialah kapak yang
menjadi kodel dari kapak loamnya. Cetakan-cetakan itu membutikan bahwa
kapak-kapak perunggu bukan barang luar negeri saja, melainkan negeri Indonesia
pun mengenalnya.
B. Nekara 7
Nekara adalah semacam berumbung dari perunggu yang
berpinggang di bagian tengahnya dan sisi atasnya tertutup. Nekara yang
ditemukan di Indonesia hanya beberapa yang utuh. Bahkan ada yang berupa
pecahan-pecahan saja. Nekara itu ditemukan di
Sumatera, Jawa, Bali, pulau Sangean dekat Sumbawa, Roti,
Leti, Selayar dan di Kepulauan
Kei. Di Alor
banyak pula tedapat nekara, tetapi lebih kecil dan ramping daripada yang
ditemukan di lain-lain tempat. Nekara yang demikian itu disebut moko. Dari
hias-hiasannya dapat diketahui bahwa moko itu tidak semunya berasal dari zaman
perunggu. Ada diantaranya yang berasal darizaman majapahit, bahkan ada yang
dibuat dari zaman mutakhir abad 19, dengan memakai hiasan lencana Inggris.
Sampai kini moko sangat dihargai penduduk dan hanya disimpan saja sebagai
pusaka dan ada dipergunakan sebagai maskawin.
Di
Bali terdapat nekara yang besar sekali. Sampai kini yang terbesar dan masih
utuh tingginya 1,86 meter dan garis tengahnya 1, 60 meter. Nekara itu dianggap
sangat suci dan dipuja penduduk. Tidak hanya di Bali, di tempat lain nekara pun
dianggap barang suci. Penyelidikan menunjukan bahwa nekara ini memang
hanya dipergunakan waktu upacara-upacara saja.
Hiasan-hiasan itu sangat luar biasa pentingnya untuk
sejarah kebudayaan, oleh karena dari berbagai lukisan itu, kita dapat gambaran
tentang kehidupan dan kebudayaan yang ada pada saat itu. Dari hiasan-hiasan itu
nampak dengan nyata, bahwa kebudayaan perunggu Indonesia tidak berdiri sendiri,
melainkan hanya merupakan bagian dari lingkungan kebudayaan yang lebih luas
yang meliputi seluruh Asia Tenggara.
Pada
nekara dari Sangean ada ganbar orang menunggang kuda beserta dengan
pengiringnya, keduanya memakai pakaian Tatar. Gambar-gambar orang Tatar
itu memberi petunjuk akan adanya hubungan dengan daerah Tiongkok. Pengaruh dari
zaman itu masih nyata pada seni hias suku bangsa Dayak dan Ngada(Flores).
Nekara dari Sangean dan kepulauan Kei dihiasi
gambar-gambar gajah, merak dan harimau, semuanya bukan bintang dari bagian
timur. Maka dapat disimpulkan bahwa nekara-nekara itu dari lain tempat asalnya,
ialah bagian dari barat Indonesia dan benua Asia. Jelas bahwa persebaran
nekara-nekara di Indonesia dari barat ke timur jalannya.
Dapat dikatakan bahwa tidak semua nekara berasal dari
luar Indonesia. Ada pula buatan dalam negeri. Di desa Manuaba(Bali)
ditemukan sebagian dari cetakan batu untuk membuat nekara, kini disimpan dan
dipuja di sebuah pura di desa tersebut. Batu cetakan itu diukir oleh
hiasan-hiasan yang biasa terdapat pada nekara, terutama sebagian dari
hiasan-hiasan
nekara pajeng.
Adanya batu cetakan nekara itu memberi kesan bahwa, nekara itu pembuatannya
dengan cara menuangkan cairan perunggu ke dalam cetakan tadi. Akan tetapi
banyak ahli
berpendapat bahwa
yang dicetak dengan cetakan batu itu hanyalah nekara lilinnya saja, sedangkan
nekara perunggu dibuat dengan cara a cire perdue.
C.
Benda-benda lainnya 9
Selain kapak corong dan nekara, banyak benda-benda lain
yang didapatkan dari zaman perunggu, sebagian besar berupa perhiasan seperi:
gelang, binggel (gelang kaki), anting-anting, kalung dan cincin. Ada cincin
yang sangat kecil. Yang tidak dapat dimasukkan jari anak-anak, ini dapat
digunakan sebagai alat penukaran uang.
Seni
menuang patung juga sudah ada. Dengan adanya beberapa buah patung, di antaranya
arca-arca orang yang sikapnya aneh dan satu arca lagi berupa kerbau. Ada juga
beberapa patung kecil kepala binatang dengan badan yang serupa pembuluh; pada
bagian atas badannya ditempel semacam cincin, sehingga benda itu dapat
digantung, ini dapat digantung sebagai liontin(perhiasan yang menggantung pada
kalung).
Dari daerah tepi danau Kerinci dan dari pulau madura
ditemukan bejana perunggu yang bentuknya seperti periuk tetapi langsing dan
gepeng. Kueduanya mempunyai hiasan ukiran yang serupa dan sangat indah, berupa
gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip huruf j. Di samping itu pada
bejana dari Madura nampak pula gambar-gambar merak dan rusa dalam kotak-kotak
segitiga.
Selain benda-benda perunggu ada lagi benda yang bukan
dari perunggu tetapi ada pada zaman perunggu asalnya, yaitu manik-manik dari
kaca. Terdapat pada kuburan-kuburan, jumlahnya sangat besar, sehingga memberi
corak istimewa pada zaman perunggu itu. Manik itu sebagai nekara kecil dan mata
uang, dibawa kepada orang yang telah meninggal sebagai bekal ke akhirat. Dapat
dikatakan bahwa pada zaman perunggu, orang telah pandai membuat dan menuang
kaca. Hanya tehniknya saja yang masih sederhana, karena hasilnya yang
kebanyakan agak kasar dan kadang-kadang masih bercampur pasir(pasir adalah
bahan membuat kaca).
Manik-manik itu ada yang besar dan ada yang kecil.
Bentuknya pun bermacam-macam, begitu pula warnanya:kuning, merah, biru, hijau,
dan putih. Banyak pula yang berwarna
banyak, hasil pencampuran
berbagai lapis kaca dengan warna yang berlainan
Manik-manik itu dibuat dan dipakai sampai zaman sejarah.
Sampai kini banyak orang dan suku bangsa di Indonesia yang sangat menyukai dan menghargai
barang itu, sehingga menjadi barang perdagangan, misalnya di Kalimantan, Timor
dan Irian.
2. Zaman Besi 10
Dalam arkeologi, Zaman Besi adalah suatu tahap
perkembangan budaya manusia di mana penggunaan besi untuk pembuatan alat dan
senjata sangat dominan. Penggunaan bahan baru ini, di dalam suatu masyarakat
sering kali mencakup perubahan praktik pertanian, kepercayaan agama, dan gaya
seni, walaupun hal ini tidak selalu terjadi.
Zaman Besi adalah periode utama terakhir dalam sistem
tiga zaman untuk mengklasifikasi masyarakat prasejarah, yang didahului oleh
Zaman Perunggu. Waktu berlangsung dan konteks zaman ini berbeda, tergantung
pada negara atau wilayah geografis. Secara klasik, Zaman Besi dianggap dimulai
pada Zaman Kegelapan Yunani pada abad ke-12 SM dan Timur Tengah Kuno, abad
ke-11 SM di India, dan antara abad ke-8 SM (Eropa Tengah) dan abad ke-6 SM
(Eropa Utara) di Eropa. Zaman Besi dianggap berakhir dengan kebangkitan
kebudayaan Hellenisme dan Kekaisaran Romawi, atau Zaman Pertengahan Awal untuk
kasus Eropa Utara.
Zaman Besi berhubungan dengan suatu tahap di mana
produksi besi adalah salah satu bentuk paling rumit dari kerajinan logam.
Kekerasan besi, titik lebur yang tinggi, dan sumber bijih besi yang melimpah,
membuat besi lebih dipilih dan murah dari pada perunggu, yang memengaruhi
dipilihnya besi sebagai logam yang paling umum digunakan. Karena kerajinan besi
diperkenalkan secara langsung ke Amerika dan Australasia oleh kolonisasi Eropa,
daerah-daerah tersebut tidak pernah mengalami Zaman Besi.
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari
bijinya untuk dituang menjadi alat-alat yang diperlukan. Teknik peleburan besi
lebih sulit dari teknik peleburan tembaga maupun perunggu sebab melebur besi
membutuhkan panas yang sangat tinggi, yaitu ±3500 °C.
Pada masa ini manusia telah dapat melebur besi untuk
dituang menjadi alat-alat yang dibutuhkan, pada masa ini di Indonesia tidak
banyak ditemukan alat-alat yang terbuat dari besi.
Alat-alat yang ditemukan
adalah :
· Mata
kapak, yang dikaitkan pada tangkai dari kayu, berfungsi untuk membelah kayu
· Mata
Sabit, digunakan untuk menyabit tumbuh-tumbuhan
11
· Mata pisau
· Mata
pedang
·
Cangkul, dll
Jenis-jenis
benda tersebut banyak ditemukan di Gunung Kidul(Yogyakarta), Bogor, Besuki dan
Punung (Jawa Timur)
2.
Zaman Tembaga
Orang
menggunakan tembaga sebagai alat kebudayaan. Alat kebudayaan ini hanya dikenal
di beberapa bagian dunia saja. Di Asia Tenggara (termasuk Indonesia)
tidak dikenal istilah zaman tembaga.
4. Kebudayaan Dongson
Kebudayaan Đông sơn adalah kebudayaan zaman perunggu yang
berkembang di lembah sông hồng,vietnam. Kebudayaan ini juga berkembang di asia
tenggara, termasuk di nusantara dari sekitar 1000 sm sampai 1 sm. Kebudayaan
dongson mulai berkembang di indochina pada masa peralihan dari periode
mesolitik dan neolitik yang kemudian periode megalitik. Pengaruh kebudayaan
dongson ini juga berkembang menuju nusantara yang kemudian dikenal sebagai masa
kebudayaan perunggu.
Asal mula kebudayaan ini berawal dari evolusi kebudayaan
austronesia . Asal usulnya sendiri telah dicari dari barat dan bahkan ada yang
berpendapat bahwa kelompok itu sampai di dongson melalui asia tengah yang tidak
lain adalah bangsa yue-tche .namun pendapat ini sama halnya dengan pendapat
yang mengaitkan dongson dengan kebudayaan halstatt
yang ternyata masih
diragukan kebenarannya.
Asumsi yang digunakan adalah bahwa benda-benda perunggu
di yunnan dengan benda-benda yang ditemukan di dongson. Meski harus dibuktikan
apakah benda-benda tersebut dibuat oleh kelompok-kelompok dari barat sehingga
dari periode pembuatannya, dapat menentukan apakah benda tersebut adalah model
untuk dongson atau hanyalah tiruan-tiruannya. Jika dugaan ini benar maka dapat
menjelaskan penyebaran kebudayaan dongson sampai ke dataran tinggi burma.
12
Benda-benda arkeologi dari dongson sangat beraneka ragam,
dari berbagai aliran. Terlihat dari artefak-artefak kehidupan sehari-hari
ataupun peralatan bersifat ritual yang sangat rumit. Perunggu adalah bahan
pilihan. Benda-benda seperti kapak dengan selongsong, ujung tombak, pisau
belati, mata bajak, topangan berkaki tiga dengan bentuk yang indah. Kemudian
gerabah dan jambangan rumah tangga, mata timbangan dan kepala pemintal benang,
perhiasan-perhiasan termasuk gelang dari tulang dan kerang, manik-manik dari
kaca dan lain-lain. Karya yang terkenal adalah nekara besar diantaranya nekara
ngoc-lu yang kini disimpan di museum hanoi, serta patung-patung perunggu yang
sering ditemukan di makam-makam pada tahapan terakhir masa dongson.
Contoh karya yang terkenal
:
Nekara Ngoc Lu
Tombak Dong
son
Kebudayaan Dongson yang berkembang di situs Dongson,
ternyata juga ditemukan karya-karya budaya yang diinspirasikan oleh kebudayaan
tersebut di bagian selatan*Semenanjung Indochina*(Samrong,*Battambang*di*Kamboja)
hingga Semenanjung Melayu (Sungai Tembeling di Pahang dan Klang di Selangor)
hingga Nusantara (Indonesia).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada zaman prasejarah, zaman dibedakan berdasarkan
alat-alatnya, yaitu, zaman batu dan logam. Zaman batu yang termuda adalah zaman
neolitikum dan zaman selanjutnya adalah zaman logam. Dengan dimulainya zaman
logam, bukan berati berakhir zaman batu, karena pada zaman logam masih terdapat
alat-alat dan perkakas batu. Nama zaman logam hanya untuk menyatakan bahwa saat
itu logam telah dikenal dan dipergunakan orang untuk membuat alat-alat
yang diperlukan.
B. Saran
Dari zaman-zaman prasejara, dapat ketahui bahwa zaman
logam dibagi lagi atas zaman tembaga, perunggu dan besi. Asia Tenggara tidak
mengenal zaman tembaga. Setelah neolitikum langsung ke zaman perunggu dan
berlanjut ke zaman besi. Di Indonesia zaman logam pun sulit untuk dibago ke
dalam zaman perunggu atau besi. Bisa dikatakan bahwa zama logam di Indonesia
hanya zama perunggu, karena alat-alat perkakas besi tidak banyak bedanya dengan
alat-alat zaman perunggu.
Daftar Pustaka
http://berita.balihita.com/wp-content/uploads/2010/03/kebudayaan
logam di Indonesia.jpghttp://www.tempointeraktif.com
Wikipedia.com